![]() |
| Fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, menjadi bagian dari sistem pengolahan air limpasan tambang sebelum dialirkan ke badan air. | Foto: Noval |
LUWU TIMUR, IVK - Air hujan yang jatuh di atas kawasan tambang tidak selalu berakhir menjadi genangan atau terserap oleh tanah.
Di kawasan tambang terbuka, air mencari jalannya sendiri.
Air mengalir mengikuti kemiringan lahan, membawa material
tersuspensi yang berada di sepanjang lintasannya.
Limpasan yang membawa material tersuspensi berpotensi
mengalir menuju badan air dan memengaruhi kualitasnya.
Karena itu, limpasan dari kawasan tambang tidak bisa begitu
saja dibiarkan mengikuti aliran alaminya.
Risiko itu menjadi penting di Sorowako, sebab aktivitas
pertambangan berlangsung tidak jauh dari Danau Matano, sebuah danau purba yang
terbentuk melalui proses tektonik dan memiliki kedalaman sekitar 590 meter.
Ekoregion Sulawesi mencatat Danau Matano memiliki luas
sekitar 164 kilometer persegi dan berstatus oligotrofik menandakan tingkat
kesuburan dan kadar nutrien (hara) yang sangat rendah, dengan tingkat kecerahan
air yang tinggi.
Kawasan ini juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati
dengan sejumlah ikan endemik.
Penelitian perikanan mencatat keberadaan sejumlah ikan
endemik di Danau Matano, termasuk ikan buttini dan kelompok Telmatherina yang
secara lokal dikenal sebagai opudi atau ikan pelangi Sulawesi.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi aspek
penting dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar kawasan pertambangan dan
Danau Matano.
Lantas kemudian muncul pertanyaan besar, bagaimana tambang
bisa berjalan beriringan dengan alam?
Salah satu jawaban yang ditawarkan PT Vale Indonesia Tbk
berada pada sistem pengelolaan air di kawasan operasinya.
Jejak aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel di
Sorowako bermula pada akhir 1970-an, ketika PT International Nickel Indonesia
(PT Inco) mulai menjalankan kegiatan operasinya di wilayah tersebut.
Hampir lima dekade kemudian, setelah PT Inco berganti nama
menjadi PT Vale Indonesia Tbk, aktivitas pertambangan masih menjadi bagian dari
kehidupan Sorowako.
Bersamaan dengan itu, pengelolaan air menjadi salah satu
aspek penting dalam menjaga lingkungan di sekitar kawasan operasi.
Sebab, persoalannya bukan hanya ke mana air hujan mengalir,
tetapi apa yang ikut terbawa bersama aliran tersebut.
Berbagai teknologi kemudian digunakan untuk mengendalikan
dan mengolah limpasan dari kawasan tambang sebelum dilepas ke lingkungan.
PT Vale Indonesia Tbk menerapkan sejumlah sistem. Dalam
keterangan resminya, perusahaan menyebut kawasan Sorowako memiliki lebih dari
100 kolam pengendapan, selain fasilitas pengolahan air Pakalangkai dan Lamella
Gravity Settler atau LGS.
Gambaran mengenai sistem tersebut terlihat ketika sejumlah
awak media berkesempatan mengunjungi kawasan operasi PT Vale di Sorowako.
Di sana, perjalanan air dari kawasan tambang hingga
fasilitas pengolahan dapat dilihat secara langsung.
Salah satu fasilitas yang menarik perhatian adalah Lamella
Gravity Settler atau LGS.
Dari luar, fasilitas ini tampak seperti kolam pengolahan air
berukuran besar.
Namun, di balik konstruksinya terdapat rangkaian proses yang
dirancang untuk mengendalikan kualitas air limpasan dari kawasan tambang
sebelum dialirkan ke badan air.
Supervisor Mine Infrastructure PT Vale Indonesia, Aris
Kallolangi, menjelaskan LGS dibangun khusus untuk mengolah air limpasan yang
berasal dari permukaan area tambang.
“Kalau air kita jaga, berarti kegiatan penambangan juga bisa
terus berjalan secara berkelanjutan,” kata Aris saat ditemui di fasilitas LGS,
Sorowako.
Dalam dokumen resminya, PT Vale menyebut fasilitas tersebut
memiliki luas sekitar 100 meter × 25 meter dengan kapasitas pengolahan sekitar
4.000 meter kubik air per jam.
Namun, air tidak langsung masuk ke LGS begitu hujan turun.
Sebelum mencapai fasilitas tersebut, limpasan dari kawasan
tambang terlebih dahulu ditampung di sejumlah kolam retensi dan kolam
pengendapan.
Sistem ini membuat aliran air dapat dikendalikan secara
bertahap sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya.
Ketika curah hujan meningkat dan debit air bertambah,
sejumlah kolam tambahan disiapkan untuk menampung limpasan.
Menurut Supervisor Hydrology Planning and Compliance PT Vale
Indonesia, Andi Burhanuddin, pengendalian tersebut tidak hanya berkaitan dengan
kualitas air, tetapi juga debitnya.
“Kami sudah mengantisipasi risiko hujan ekstrem dengan
beberapa kolam retensi dan fasilitas pengolahan tambahan sehingga baku mutu air
tetap terjaga,” ujarnya.
Dari kolam retensi, air kemudian memasuki LGS.
Di fasilitas ini, PT Vale menggunakan ferrous sulfate dalam
proses pengolahan untuk membantu menurunkan Total Suspended Solid (TSS) dan
kandungan Chromium Hexavalent (Cr6).
Kedua parameter tersebut menjadi salah satu fokus pengawasan
sebelum air dilepas ke lingkungan.
“Yang kami kontrol adalah TSS dan Chromium Hexavalent agar
air yang keluar tetap jernih dan memenuhi baku mutu,” kata Aris.
Kejernihan secara kasatmata memang mudah dikenali, tetapi
kualitas air tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat oleh mata.
Parameter seperti TSS dan kromium membutuhkan pengukuran
laboratorium untuk mengetahui apakah air memenuhi standar yang ditetapkan.
Karena itu, pengambilan sampel dan pengujian menjadi bagian
penting dari rangkaian pengolahan, bukan sekadar pelengkap setelah air keluar
dari fasilitas.
Menurut Andi, penggunaan LGS membuat proses pengendapan
material tersuspensi menjadi lebih efisien dibandingkan sistem pengendapan konvensional.
“Dengan luasan yang sama, efektivitas LGS bisa sekitar
sepuluh kali lebih tinggi dibanding kolam biasa dalam menurunkan TSS,” jelas
Andi.
Menurut Andi, sekitar satu hingga dua jam setelah injeksi
bahan kimia, air yang telah memenuhi standar lingkungan dapat dialirkan ke
badan air.
Tetapi proses tidak berhenti ketika air meninggalkan
instalasi.
Kualitas air terus dipantau melalui pengambilan sampel
sebelum dan sesudah pengolahan.
Hasil pengujian kemudian diperiksa oleh laboratorium independen
yang telah terakreditasi.
PT Vale menyebut pengujian oleh konsultan internasional pada
akhir 2025 untuk kebutuhan standar IRMA juga menunjukkan kualitas air di muara
LGS memenuhi baku mutu lingkungan.
Di titik inilah perjalanan air dari kawasan tambang kembali
bersinggungan dengan lingkungan yang sejak awal menjadi perhatian, yakni badan
air di sekitar Sorowako dan Danau Matano.
Dari Pengolahan Menuju Penggunaan Kembali
Perjalanan air ternyata tidak berhenti pada pengolahan.
PT Vale menyatakan tengah mengkaji peluang penerapan water
recycle sebagai bagian dari upaya pemanfaatan kembali air hujan.
Namun hal itu masih menunggu kepastian regulasi terkait
pemanfaatan air hujan.
Dalam informasi perusahaan, air hasil pengolahan LGS telah
digunakan kembali untuk sejumlah kebutuhan operasional, sementara perusahaan
juga menyatakan ingin memperluas penggunaan air daur ulang.
Bagi perusahaan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya
meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Dalam laporan keberlanjutan 2025, PT Vale juga melaporkan
penerapan sistem otomatis Intelligent Coagulant for Mine Water Treatment atau
INCO MATTE yang menurut perusahaan berkontribusi menurunkan beban pencemar
hingga 87 ton TSS dan 0,11 ton Cr6+.
Rangkaian pengelolaan tersebut menunjukkan bahwa menjaga
kualitas air di sekitar kawasan tambang bukan pekerjaan yang selesai hanya
dengan membangun satu fasilitas pengolahan.
Ia membutuhkan pemantauan yang konsisten, pengujian yang
dapat diverifikasi, pengendalian limpasan, pengelolaan sedimen, efisiensi
penggunaan air serta keterlibatan berbagai pihak.
Pada akhirnya, perjalanan setetes air hujan dari kawasan
tambang menuju lingkungan bukan hanya cerita tentang teknologi.
