Iklan

terkini

Dari Hujan ke Danau Matano: Menelusuri Teknologi Pengelolaan Air PT Vale di Tengah Aktivitas Tambang

9/29/26, 15:04 WIB Last Updated 2026-09-29T08:04:41Z
Fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, menjadi bagian dari sistem pengolahan air limpasan tambang sebelum dialirkan ke badan air. | Foto: Noval


LUWU TIMUR, IVK - Air hujan yang jatuh di atas kawasan tambang tidak selalu berakhir menjadi genangan atau terserap oleh tanah.

 

Di kawasan tambang terbuka, air mencari jalannya sendiri.

 

Air mengalir mengikuti kemiringan lahan, membawa material tersuspensi yang berada di sepanjang lintasannya.

 

Limpasan yang membawa material tersuspensi berpotensi mengalir menuju badan air dan memengaruhi kualitasnya.

 

Karena itu, limpasan dari kawasan tambang tidak bisa begitu saja dibiarkan mengikuti aliran alaminya.

 

Risiko itu menjadi penting di Sorowako, sebab aktivitas pertambangan berlangsung tidak jauh dari Danau Matano, sebuah danau purba yang terbentuk melalui proses tektonik dan memiliki kedalaman sekitar 590 meter.

 

Ekoregion Sulawesi mencatat Danau Matano memiliki luas sekitar 164 kilometer persegi dan berstatus oligotrofik menandakan tingkat kesuburan dan kadar nutrien (hara) yang sangat rendah, dengan tingkat kecerahan air yang tinggi.

 

Kawasan ini juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati dengan sejumlah ikan endemik.

 

Penelitian perikanan mencatat keberadaan sejumlah ikan endemik di Danau Matano, termasuk ikan buttini dan kelompok Telmatherina yang secara lokal dikenal sebagai opudi atau ikan pelangi Sulawesi.

 

Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar kawasan pertambangan dan Danau Matano.

 

Lantas kemudian muncul pertanyaan besar, bagaimana tambang bisa berjalan beriringan dengan alam?

 

Salah satu jawaban yang ditawarkan PT Vale Indonesia Tbk berada pada sistem pengelolaan air di kawasan operasinya.

 

Jejak aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel di Sorowako bermula pada akhir 1970-an, ketika PT International Nickel Indonesia (PT Inco) mulai menjalankan kegiatan operasinya di wilayah tersebut.

 

Hampir lima dekade kemudian, setelah PT Inco berganti nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk, aktivitas pertambangan masih menjadi bagian dari kehidupan Sorowako.

 

Bersamaan dengan itu, pengelolaan air menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga lingkungan di sekitar kawasan operasi.

 

Sebab, persoalannya bukan hanya ke mana air hujan mengalir, tetapi apa yang ikut terbawa bersama aliran tersebut.

 

Berbagai teknologi kemudian digunakan untuk mengendalikan dan mengolah limpasan dari kawasan tambang sebelum dilepas ke lingkungan.

 

PT Vale Indonesia Tbk menerapkan sejumlah sistem. Dalam keterangan resminya, perusahaan menyebut kawasan Sorowako memiliki lebih dari 100 kolam pengendapan, selain fasilitas pengolahan air Pakalangkai dan Lamella Gravity Settler atau LGS.

 

Gambaran mengenai sistem tersebut terlihat ketika sejumlah awak media berkesempatan mengunjungi kawasan operasi PT Vale di Sorowako.

 

Di sana, perjalanan air dari kawasan tambang hingga fasilitas pengolahan dapat dilihat secara langsung.

 

Salah satu fasilitas yang menarik perhatian adalah Lamella Gravity Settler atau LGS.

 

Dari luar, fasilitas ini tampak seperti kolam pengolahan air berukuran besar.

 

Namun, di balik konstruksinya terdapat rangkaian proses yang dirancang untuk mengendalikan kualitas air limpasan dari kawasan tambang sebelum dialirkan ke badan air.

 

Supervisor Mine Infrastructure PT Vale Indonesia, Aris Kallolangi, menjelaskan LGS dibangun khusus untuk mengolah air limpasan yang berasal dari permukaan area tambang.

 

“Kalau air kita jaga, berarti kegiatan penambangan juga bisa terus berjalan secara berkelanjutan,” kata Aris saat ditemui di fasilitas LGS, Sorowako.

 

Dalam dokumen resminya, PT Vale menyebut fasilitas tersebut memiliki luas sekitar 100 meter × 25 meter dengan kapasitas pengolahan sekitar 4.000 meter kubik air per jam.

 

Namun, air tidak langsung masuk ke LGS begitu hujan turun.

 

Sebelum mencapai fasilitas tersebut, limpasan dari kawasan tambang terlebih dahulu ditampung di sejumlah kolam retensi dan kolam pengendapan.

 

Sistem ini membuat aliran air dapat dikendalikan secara bertahap sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya.

 

Ketika curah hujan meningkat dan debit air bertambah, sejumlah kolam tambahan disiapkan untuk menampung limpasan.

 

Menurut Supervisor Hydrology Planning and Compliance PT Vale Indonesia, Andi Burhanuddin, pengendalian tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas air, tetapi juga debitnya.

 

“Kami sudah mengantisipasi risiko hujan ekstrem dengan beberapa kolam retensi dan fasilitas pengolahan tambahan sehingga baku mutu air tetap terjaga,” ujarnya.

 

Dari kolam retensi, air kemudian memasuki LGS.

 

Di fasilitas ini, PT Vale menggunakan ferrous sulfate dalam proses pengolahan untuk membantu menurunkan Total Suspended Solid (TSS) dan kandungan Chromium Hexavalent (Cr6).

 

Kedua parameter tersebut menjadi salah satu fokus pengawasan sebelum air dilepas ke lingkungan.

 

“Yang kami kontrol adalah TSS dan Chromium Hexavalent agar air yang keluar tetap jernih dan memenuhi baku mutu,” kata Aris.

 

Kejernihan secara kasatmata memang mudah dikenali, tetapi kualitas air tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat oleh mata.

 

Parameter seperti TSS dan kromium membutuhkan pengukuran laboratorium untuk mengetahui apakah air memenuhi standar yang ditetapkan.

 

Karena itu, pengambilan sampel dan pengujian menjadi bagian penting dari rangkaian pengolahan, bukan sekadar pelengkap setelah air keluar dari fasilitas.

 

Menurut Andi, penggunaan LGS membuat proses pengendapan material tersuspensi menjadi lebih efisien dibandingkan sistem pengendapan konvensional.

 

“Dengan luasan yang sama, efektivitas LGS bisa sekitar sepuluh kali lebih tinggi dibanding kolam biasa dalam menurunkan TSS,” jelas Andi.

 

Menurut Andi, sekitar satu hingga dua jam setelah injeksi bahan kimia, air yang telah memenuhi standar lingkungan dapat dialirkan ke badan air.

 

Tetapi proses tidak berhenti ketika air meninggalkan instalasi.

 

Kualitas air terus dipantau melalui pengambilan sampel sebelum dan sesudah pengolahan.

 

Hasil pengujian kemudian diperiksa oleh laboratorium independen yang telah terakreditasi.

 

PT Vale menyebut pengujian oleh konsultan internasional pada akhir 2025 untuk kebutuhan standar IRMA juga menunjukkan kualitas air di muara LGS memenuhi baku mutu lingkungan.

 

Di titik inilah perjalanan air dari kawasan tambang kembali bersinggungan dengan lingkungan yang sejak awal menjadi perhatian, yakni badan air di sekitar Sorowako dan Danau Matano.

 

Dari Pengolahan Menuju Penggunaan Kembali

 

Perjalanan air ternyata tidak berhenti pada pengolahan.

 

PT Vale menyatakan tengah mengkaji peluang penerapan water recycle sebagai bagian dari upaya pemanfaatan kembali air hujan.

 

Namun hal itu masih menunggu kepastian regulasi terkait pemanfaatan air hujan.

 

Dalam informasi perusahaan, air hasil pengolahan LGS telah digunakan kembali untuk sejumlah kebutuhan operasional, sementara perusahaan juga menyatakan ingin memperluas penggunaan air daur ulang.

 

Bagi perusahaan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air.

 

Dalam laporan keberlanjutan 2025, PT Vale juga melaporkan penerapan sistem otomatis Intelligent Coagulant for Mine Water Treatment atau INCO MATTE yang menurut perusahaan berkontribusi menurunkan beban pencemar hingga 87 ton TSS dan 0,11 ton Cr6+.

 

Rangkaian pengelolaan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kualitas air di sekitar kawasan tambang bukan pekerjaan yang selesai hanya dengan membangun satu fasilitas pengolahan.

 

Ia membutuhkan pemantauan yang konsisten, pengujian yang dapat diverifikasi, pengendalian limpasan, pengelolaan sedimen, efisiensi penggunaan air serta keterlibatan berbagai pihak.

 

Pada akhirnya, perjalanan setetes air hujan dari kawasan tambang menuju lingkungan bukan hanya cerita tentang teknologi.

 

Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah industri mengelola konsekuensi dari aktivitasnya, bagaimana data digunakan untuk menguji klaim, dan bagaimana Danau Matano terus menjadi bagian penting dari masa depan Sorowako. (nov)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Hujan ke Danau Matano: Menelusuri Teknologi Pengelolaan Air PT Vale di Tengah Aktivitas Tambang

Terkini

Topik Populer

Iklan