![]() |
Oleh: Ihwan Kadir, pegiat literasi dan pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL)
*Segala bentuk isi dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini menjadi tanggung jawab penuh penulis
KOLAKA, IVK - Di tengah perayaan HUT Sulawesi Tenggara ke-62 yang berlangsung di Kendari, wajah industri nikel kembali hadir ke ruang publik—kali ini bukan semata sebagai simbol ekonomi, melainkan juga sebagai medium edukasi dan interaksi sosial.
Area pameran yang diisi oleh perusahaan tambang dan hilirisasi memperlihatkan satu kecenderungan baru, industri mulai membangun narasi yang lebih komunikatif, terbuka, dan dekat dengan masyarakat.
Berbagai booth menampilkan pendekatan beragam, mulai dari teknologi produksi, praktik keberlanjutan, hingga program pemberdayaan masyarakat.
Di tengah keragaman tersebut, kehadiran PT Ceria Nugraha Indotama menjadi salah satu yang menonjol dari sisi konsep dan penyajian. Perusahaan ini menghadirkan booth yang tidak hanya informatif, tetapi juga mencoba merangkai cerita utuh tentang perjalanan dan arah masa depan industri.
Dokumentasi kegiatan selama 24–26 April 2026 (hari ini) menunjukkan bahwa materi yang ditampilkan cukup komprehensif: mulai dari visi dan misi perusahaan, perjalanan sejak 2017 hingga 2025, penerapan good mining practice, hingga pengembangan smelter Merah Putih RKEF Line 1.
Selain itu, isu ketenagakerjaan, pengembangan sumber daya manusia, serta komitmen terhadap prinsip ESG—termasuk capaian PROPER Hijau—turut menjadi bagian dari narasi yang diangkat.
Tidak berhenti pada aspek industri, booth ini juga memuat berbagai inisiatif sosial seperti program community relations (Comrel), government relations (Govrel), serta program pemberdayaan masyarakat (PPM). Kehadiran UMKM binaan, video dokumenter program-program pemberdayaan masyarakat, hingga konten biodiversitas memperlihatkan upaya perusahaan dalam menampilkan dimensi sosial dan lingkungan secara lebih utuh.
Dari sisi respons publik, booth ini tercatat sebagai salah satu yang paling banyak dikunjungi pada hari-hari awal pembukaan. Antusiasme datang tidak hanya dari masyarakat umum, tetapi juga mahasiswa yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pemahaman tentang industri nikel, praktik pertambangan, dan arah keberlanjutan di Sulawesi Tenggara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang-ruang semacam ini semakin relevan sebagai jembatan pengetahuan antara industri dan masyarakat.
Namun demikian, di balik penyajian yang terstruktur dan narasi yang terbangun rapi, muncul satu refleksi yang sulit diabaikan. Bahwa dari sebuah booth, yang pada dasarnya merupakan representasi kecil dari ekosistem industri, sudah terlihat bagaimana kapasitas dan potensi investasi dalam negeri dimana ia sebenarnya sangat mampu memainkan peran signifikan dalam pembangunan daerah.
Dalam perspektif penulis, hal ini membuka pertanyaan yang lebih luas mengenai arah kebijakan pembangunan. Jika sebagian contoh praktik di lapangan menunjukkan bahwa penguatan investasi domestik dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja, pengembangan masyarakat, dan komitmen lingkungan, maka ruang untuk memperbesar peran modal dalam negeri seharusnya lebih menjadi pertimbangan strategis.
Tanpa menegasikan pentingnya investasi asing, ketergantungan yang berlebihan justru berpotensi mengaburkan peluang penguatan kemandirian ekonomi. Sebaliknya, keberpihakan yang lebih tegas terhadap investasi nasional dapat mempercepat distribusi manfaat pembangunan, terutama bagi masyarakat di sekitar wilayah industri. Dalam konteks ini, bukan tidak mungkin persoalan kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah di berbagai daerah dapat ditangani lebih progresif apabila fondasi ekonominya bertumpu pada kekuatan sendiri.
Pada akhirnya, kehadiran industri nikel dalam perayaan HUT Sultra tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga ruang refleksi. Ia memperlihatkan bahwa pembangunan daerah tidak lagi berdiri semata di atas peran pemerintah, melainkan merupakan hasil interaksi dinamis antara industri, masyarakat, dan generasi muda. Di titik inilah, narasi pembangunan diuji. Bukan hanya pada apa yang ditampilkan, tetapi juga pada arah yang ingin dituju.
Selamat Ulang Tahun Sulawesi Tenggara yang ke-62. Harapan penulis, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dapat terus memainkan peran sebagai jembatan yang kokoh ke pemerintah pusat dalam rangka menyuarakan bahwa masyarakat Sultra membutuhkan komitmen yang lebih jelas dan konsisten terkait arah keberpihakan kebijakan hilirisasi industri nikel di daerah ini, agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh seluruh lapisan masyarakat.
