KOLAKA, IVK – Di momen peringatan Hari Kartini tahun ini, semangat emansipasi tidak hanya bergema di ruang-ruang kelas atau kantor pemerintahan.
Ia hidup dan bernapas di sebuah pondok sederhana berdinding papan di Dusun Lalodipu, Kelurahan Mangolo, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Di sana, seorang ibu rumah tangga bernama Marni sedang duduk di kursi rotan.
Di jari tangannya terselip jarum yang dengan lincah menganyam tali poliester berwarna coklat untuk dibuat miniatur gelas dan mangkuk.
Di sekelilingnya, tumpukan kantong kresek warna-warni yang sudah dicuci bersih menari-nari tertiup angin.
Bagi Marni, sampah bukanlah kotoran yang harus dibuang.
Ia adalah “benang emas” yang mengubah nasib keluarganya.
Di tangan dinginnya, limbah rumah tangga yang dikumpulkan suaminya, Hasdar, bertransformasi menjadi tas cantik, sepatu unik, boneka menggemaskan, hingga souvenir bernilai ekonomi tinggi.
Selama bertahun-tahun, ia menggabungkan material daur ulang dengan tali kur, tali poliester, dan benang wol untuk menciptakan karya seni yang tak kalah indahnya dengan produk pabrikan.
Suami Marni bernama Hasdar lelaki tangguh yang membantunya di lapangan.
Dia yang berkeliling mengumpulkan sampah, menyortir, membersihkan, dan menjemurnya.
Lalu diberikan kepada Marni untuk disulap menjadi barang-barang berharga.
"Harga kerajinan kami bervariasi. Mulai dari harga 10 ribu sampai 300 ribu rupiah. Tergantung dari jenis barang, bahan yang digunakan serta tingkat kerumitan membuatnya," katanya sambil memegang sebuah tas putih anyaman hasil karyanya.
Perjuangan Marni bukan tanpa hasil. Kerajinan tangannya telah berkali-kali mewakili Kabupaten Kolaka dalam ajang Kendari maupun Kolaka Ekspo.
Ia memukau pengunjung dengan keunikan dan pesan lingkungan yang dibawanya.
Dedikasinya bahkan telah dianugerahi lima kali penghargaan oleh pemerintah daerah.
Hal tersebut menjadi sebuah bukti bahwa kerja keras seorang ibu rumah tangga dari dusun kecil pun bisa menembus Recognition publik.
Namun, di balik tumpukan penghargaan dan pujian itu, tersimpan harapan besar yang belum sepenuhnya terwujud.
Marni menyadari bahwa untuk melangkah lebih jauh, untuk membawa produknya menjangkau pasar internasional.
Atau setidaknya menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan domestik, ia membutuhkan lebih dari sekadar kemauan keras. Ia butuh dukungan nyata.
“Selain untuk mengurangi sampah di lingkungan kita, produk ini sedikit mampu membantu ekonomi keluarga kami. Tapi kami ingin lebih dari itu,” ungkap Marni lirih.
Saat ini kata dia, dirinya sangat menanti dukungan pemerintah untuk bantuan modal usaha.
Modal untuk membeli alat yang lebih baik, bahan pendukung, dan mengembangkan kapasitas produksi.
Lebih dari sekadar modal usaha, Marni memiliki mimpi besar tentang infrastruktur promosi.
Ia berharap pemerintah dapat membangun sebuah Galeri Pusat Oleh-Oleh Khas Kolaka.
Sebuah tempat khusus di mana kerajinan daur ulang seperti miliknya, serta produk UMKM lainnya, dapat dipajang dengan layak.
Kisah Marni adalah cerminan nyata dari semangat Raden Ajeng Kartini di era modern.
Jika Kartini berjuang melalui tulisan untuk mengangkat derajat perempuan lewat pendidikan, Marni berjuang melalui tindakan nyata untuk mengangkat derajat perempuan lewat kemandirian ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Dukungan modal dan penyediaan galeri pusat penjualan bukan sekadar bantuan charity, melainkan investasi untuk memberdayakan potensi lokal yang luar biasa.
Marni telah menunjukkan jalannya. Kini, giliran kita, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat luas untuk membuka gerbang kesempatan agar karya tangannya bisa dikenal dunia.
Sehingga dengan demikian dapat menjadikan Kolaka bukan hanya terkenal karena nikelnya, tapi juga karena kreativitas warganya yang tak kenal lelah.
“Habis Gelap Terbitlah Terang,” begitu kata R.A Kartini. Bagi Marni, terang itu muncul dari setiap anyaman sampah yang berubah menjadi sebuah harapan bagi masa depan keluarganya. (rul)
