![]() |
| Forkopimda Kolaka hadiri peresmian Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha umat Hindu di Desa Peoho, Kecamatan Watubangga, pada Senin (29/6/2026). | Foto: Noval |
KOLAKA, IVK – Suara kidung suci, aroma dupa, dan senyum haru menyelimuti Desa Peoho, Kecamatan Watubangga, Senin (29/6/2026). Setelah melalui perjalanan panjang selama empat tahun, umat Hindu di Desa Adat Sindhu Kertha akhirnya meresmikan Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha yang dirangkaikan dengan pelaksanaan Yadnya Ngenteg Linggih, Madudusan Alit, Caru Manca Mustika, dan Ngersi Gana.
Bagi masyarakat adat setempat, peresmian pura itu bukan sekadar berdirinya sebuah bangunan suci. Di balik tembok, pelinggih, dan halaman pura yang kini tampak megah, tersimpan kisah panjang tentang kebersamaan, pengorbanan, dan gotong royong yang dirawat selama bertahun-tahun.
Ketua Panitia, Wayan Budiasa, mengisahkan bahwa pembangunan pura dilakukan secara bertahap sejak 2022. Dana pembangunan berasal dari swadaya umat yang secara rutin menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan selama empat tahun.
“Selama empat tahun umat melakukan angsuran wajib untuk pembangunan pura ini. Selain swadaya masyarakat, kami juga mendapat dukungan dari Kesra Kabupaten Kolaka, Bimas Hindu Provinsi Sulawesi Tenggara, Dana Desa Peoho yang dianggarkan selama tiga tahun berturut-turut, serta para donatur yang membantu tanpa ikatan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong menjadi energi utama yang menjaga pembangunan tetap berjalan. Wayan bahkan mengenang sosok Bupati Kolaka, Amri, yang menurutnya telah ikut membersamai proses pembangunan sejak tahap awal.
“Saat itu beliau masih bertugas di BKKBN. Ketika kami bergotong royong membuat pondasi, beliau hadir dan menjadi donatur pertama pembangunan pura ini. Hari ini beliau kembali hadir untuk meresmikan pura yang sama,” kenangnya.
![]() |
| Usai diresmikan, Umat Hindu di Desa Peoho, Kecamatan Watubangga gunakan Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha untuk beribadah, Senin (29/6/2026). | Foto: Noval |
Bagi umat Hindu, puncak rangkaian yadnya tersebut ditandai dengan prosesi Ngenteg Linggih. Ketua PHDI Kabupaten Kolaka, I Nyoman Warta, menjelaskan bahwa Ngenteg Linggih merupakan prosesi sakral untuk menetapkan dan menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di pura yang telah selesai dibangun.
“Ngenteg berarti menetapkan, sedangkan linggih berarti kedudukan. Jadi melalui prosesi ini umat memohon agar Ida Sang Hyang Widhi berkenan berstana di Pura Siwikrama sebagai pusat pembinaan spiritual umat,” jelasnya.
Ia menyebut perjalanan menuju prosesi puncak tersebut tidaklah singkat. Selama lebih dari satu bulan, umat menjalani berbagai tahapan upacara mulai dari matur piuning, melasti, pecaruan, melaspas, hingga berbagai rangkaian yadnya lainnya yang berlangsung siang dan malam.
“Ini bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ada pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang luar biasa. Karena itu saya sangat mengapresiasi semangat umat Desa Adat Sindhu Kertha yang mampu menyelesaikan seluruh rangkaian hingga hari ini,” katanya.
Menurut Nyoman, nama Sindhu Kertha sendiri memiliki makna mendalam. Sindhu berarti sungai, sementara Kertha berarti kemakmuran.
“Maknanya seperti aliran sungai yang memberikan kesejukan dan kemakmuran bagi masyarakat,” ujarnya.
![]() |
| Bupati Amri dan Ketua DPRD Kolaka I Ketut Arjana terima sambutan umat Hindu di Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha Desa Peoho, Kecamatan Watubangga, Senin (29/6/2026). | Foto: Noval |
Sementara itu, Ketua DPRD Kolaka, I Ketut Arjana, menilai keberadaan Pura Siwikrama tidak hanya penting bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol harmoni sosial di Kabupaten Kolaka.
“Pura ini bukan sekadar bangunan fisik atau tempat ibadah. Ini adalah simbol persatuan, identitas budaya, dan bukti nyata bahwa keberagaman di Kolaka dapat hidup berdampingan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan pura menunjukkan bagaimana nilai-nilai kebersamaan, pengorbanan, dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.
“Budaya dan tradisi adalah akar yang menjaga kita agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman,” tambahnya.
![]() |
| Bupati Amri (tengah) dan Ketua DPRD Kolaka I Ketut Arjana (kiri) disambut hangat umat Hindu di Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha Desa Peoho, Kecamatan Watubangga, Senin (29/6/2026). | Foto: Noval |
Pada kesempatan yang sama, Bupati Kolaka, Amri, mengaku terharu melihat perjuangan umat Hindu Desa Peoho yang mampu mewujudkan cita-cita pembangunan pura melalui semangat kebersamaan.
“Empat tahun bukan waktu yang singkat. Tetapi yang paling penting bukan soal berapa lama membangunnya. Yang luar biasa adalah semangat gotong royong dan persaudaraan umat Hindu yang terus terjaga sampai hari ini,” ujar Amri.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kolaka akan terus memberikan perhatian terhadap seluruh rumah ibadah tanpa membedakan agama maupun keyakinan.
“Masjid, gereja, pura maupun vihara memiliki posisi yang sama. Selama menggunakan fasilitas listrik dan air untuk pelayanan umat, pemerintah siap membantu biaya operasionalnya,” tegasnya.
Tak hanya itu, Amri juga merespons aspirasi umat terkait kebutuhan lokasi melasti yang selama ini menjadi persoalan setiap menjelang Hari Raya Nyepi.
“Kita akan duduk bersama mencari solusi terbaik. Kalau memang perlu dibebaskan untuk kepentingan umat, akan kita carikan jalan keluarnya,” katanya.
Di penghujung acara, prasasti peresmian ditandatangani dan Pura Siwikrama Adat Sindhu Kertha resmi digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu Desa Peoho.
Namun bagi masyarakat setempat, hari itu bukanlah akhir dari sebuah perjalanan panjang. Justru menjadi awal dari harapan baru agar pura tersebut terus menjadi ruang pemersatu, pusat pembinaan moral, pelestarian budaya, dan sumber kedamaian bagi generasi yang akan datang.
Di bawah langit Watubangga yang cerah, doa-doa pun dipanjatkan. Bukan hanya untuk kesucian pura yang baru diresmikan, tetapi juga untuk menjaga warisan gotong royong yang telah membangunnya selama empat tahun penuh. (nov)



