![]() |
| Kantor Badan Pusat Statistik Kolaka. | Foto: Noval |
KOLAKA, IVK – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kolaka memastikan kondisi inflasi di wilayah Kolaka masih berada dalam batas aman dan terkendali.
Meski angka inflasi Kolaka per Desember 2025 secara Year on Year (YoY) tercatat berada di kisaran 3,45 persen, BPS menegaskan situasi tersebut justru mencerminkan keseimbangan antara kepentingan produsen dan daya beli masyarakat.
Kepala BPS Kolaka, Ade Ida Mane menjelaskan bahwa inflasi tidak bisa disamakan dengan indikator kemiskinan.
Inflasi, kata dia, justru perlu dijaga pada rentang tertentu agar roda perekonomian tetap bergerak.
“Inflasi itu tidak boleh terlalu rendah dan juga tidak boleh terlalu tinggi. Kalau inflasi terlalu rendah, justru tidak bagus bagi produsen, terutama petani, nelayan, dan pelaku UMKM,” ujarnya beberapa waktu lalu saat diwawancarai Info Viral Kolaka.
Menurutnya, inflasi yang terlalu rendah identik dengan harga jual yang murah.
Kondisi tersebut dapat menurunkan motivasi produsen untuk berproduksi karena hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.
“Kalau saya produksi tapi nilai jualnya rendah, tentu bisa rugi. Ini bisa membuat petani, nelayan, dan UMKM enggan berproduksi,” jelasnya.
Sebaliknya, inflasi yang terlalu tinggi juga berisiko mengganggu daya beli masyarakat.
Karena itu, pemerintah menetapkan inflasi ideal berada pada rentang 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen, atau maksimal 3,5 persen.
“Inflasi Kolaka masih berada dalam range terkendali tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kepala BPS Kolaka mengungkapkan bahwa inflasi sebesar 3,5 persen yang tercatat saat ini dipengaruhi signifikan oleh komoditas emas.
Dari total inflasi tersebut, emas menyumbang andil sekitar 1,52 persen.
“Kalau kontribusi emas itu dikeluarkan, inflasi Kolaka sebenarnya hanya sekitar 1,93 persen. Artinya, secara umum harga-harga kebutuhan lainnya relatif stabil,” paparnya.
Ia juga membandingkan kondisi Kolaka dengan sejumlah daerah lain di Indonesia yang mengalami inflasi jauh lebih tinggi, bahkan ada yang mencapai dua digit.
“Di beberapa kabupaten/kota lain, inflasinya bisa sampai 10 persen. Dibandingkan itu, Kolaka masih sangat terkendali,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, BPS Kolaka menilai stabilitas harga di daerah masih terjaga dan tidak menimbulkan tekanan serius bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Pemerintah daerah pun diharapkan terus menjaga keseimbangan kebijakan agar inflasi tetap berada pada level yang sehat bagi perekonomian daerah. (nov)
