Iklan

terkini

Ketika Anak Muda Kolaka Meninggalkan Sawah dan Laut

3/15/26, 06:17 WIB Last Updated 2026-03-14T23:37:12Z

 


Oleh: Arif Prasetya, S.Pi., M.Si

Dosen Ilmu Perikanan USN Kolaka


*Segala bentuk isi dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini menjadi tanggung jawab penuh penulis


KOLAKA, IVK - Tidak ada tambang yang abadi. Di balik gemerlap investasi, deru alat berat, dan geliat ekonomi yang mengiringinya, industri pertambangan selalu membawa satu kenyataan yang tidak dapat dihindari: sumber daya mineral suatu saat akan habis.


Nikel, batu bara, maupun mineral lainnya adalah sumber daya tidak terbarukan yang hanya dapat dieksploitasi selama cadangannya masih tersedia dan secara ekonomi masih layak ditambang.


Banyak daerah di dunia pernah mengalami masa kejayaan industri tambangdatang dengan cepat, tumbuh pesat, lalu perlahan memudar ketika cadangan mulai menipis atau harga komoditas berubah.


Karena itu, setiap daerah tambang sebenarnya dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar sejak awal: apa yang akan menopang ekonomi daerah ketika masa produksi tambang berakhir? Pertanyaan ini sering kali baru disadari ketika industri ekstraktif mulai mengalami penurunan.


Padahal jawaban atas pertanyaan tersebut seharusnya sudah dipersiapkan sejak masa pertumbuhan ekonomi tambang masih berada pada puncaknya.


Pertanyaan yang sama kini relevan bagi Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan industri pertambangan dan pengolahan nikel berkembang pesat dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.


Investasi besar, pembangunan kawasan industri, serta meningkatnya aktivitas ekonomi menjadikan sektor tambang sebagai simbol transformasi ekonomi baru bagi Kolaka.


Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Lapangan kerja baru terbuka, aktivitas ekonomi meningkat, dan banyak keluarga merasakan manfaat langsung dari perkembangan industri ini.


Namun di balik geliat tersebut, perubahan sosial perlahan mulai terlihat—perubahan yang mungkin tidak selalu tercermin dalam statistik ekonomi, tetapi terasa di desa-desa dan ruang-ruang pendidikan.


Semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadikan sektor pangan sebagai masa depan mereka.


Padahal Kolaka bukan hanya daerah tambang. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya pangan yang sangat besar.


Secara geografis, Kolaka memiliki garis pantai sekitar 293 kilometer dengan luas perairan mencapai sekitar 15.000 kilometer persegimulai dari Kec Toari di Selatan Hingga Kec Iwoimenda di ujung utara, jauh lebih luas dibandingkan wilayah daratannya.


Dengan posisi yang menghadap langsung ke Teluk Bone, wilayah ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan perikanan tangkap, budidaya laut, serta berbagai usaha ekonomi pesisir.


Selama puluhan tahun, sawah, kebun, dan laut telah menjadi sumber kehidupan masyarakat di berbagai desa di Kolaka.


Namun kini, generasi muda yang tumbuh di lingkungan tersebut semakin jarang yang bercita-cita menjadi petani, nelayan, atau peternak.


Fenomena ini bahkan mulai terlihat sejak tingkat pendidikan menengah. Banyak lulusan SMA yang tidak lagi memandang perguruan tinggi sebagai satu-satunya jalan menuju masa depan.


Sebagian dari mereka justru memilih langsung memasuki dunia kerja di sektor pertambangan, terbukti di beberapa sekolah ketika USN Kolaka sosialisasi perguruan tinggi bahkan ada beberapa sekolah yang siswanya tidak ada yang berencana melanjutkan kuliah, berencana langsung masuk ke tambang katanya.


Pekerjaan seperti operator alat berat, mekanik, atau pengemudi kendaraan operasional tambang kini menjadi pilihan yang cukup populer di kalangan anak muda.


Peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya berbagai program pelatihan tenaga kerja yang memberikan sertifikasi keterampilan operator alat berat dan bidang teknis lainnya.


Bagi sebagian anak muda, jalur ini terasa lebih realistis. Dalam waktu relatif singkat mereka dapat memperoleh keterampilan kerja dan peluang penghasilan dibandingkan menempuh pendidikan tinggi selama beberapa tahun.


Kondisi ini juga tidak dapat dilepaskan dari tingkat pendidikan masyarakat daerah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Kolaka pada tahun 2024 mencapai sekitar 257,73 ribu jiwa, namun hanya sekitar 6,87 persen yang menamatkan pendidikan perguruan tinggi.


Angka ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi masih relatif rendah.


Dalam situasi seperti ini, jalur pelatihan kerja yang langsung mengarah pada pekerjaan di sektor industri sering dipandang sebagai pilihan yang lebih cepat dan praktis bagi banyak anak muda.


Fenomena ini tentu tidak sepenuhnya salah. Industri tambang memang menghadirkan peluang ekonomi nyata bagi masyarakat daerah.


Namun jika kecenderungan ini berlangsung tanpa diimbangi pembangunan sektor lain, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang.


Sektor pangan perlahan kehilangan generasi penerusnya.


Sebagai dosen yang mengajar di program studi ilmu perikanan di USN Kolaka, perubahan ini terasa nyata di lingkungan kampus.


Dalam beberapa tahun terakhir, minat mahasiswa terhadap program studi yang berkaitan dengan sektor pangan tidak lagi sebesar sebelumnya.


Banyak siswa yang sebenarnya berasal dari keluarga nelayan atau petani justru lebih tertarik bekerja di sektor industri tambang karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.


Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan di daerah. Di satu sisi, Kolaka memiliki laut yang luas dan potensi perikanan yang besar.


Namun di sisi lain, semakin sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari dan mengembangkan potensi tersebut secara ilmiah dan profesional.


Padahal secara ekonomi, sektor pangan masih memiliki peran yang sangat penting. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 23 persen terhadap perekonomian Sulawesi Tenggara, menjadikannya salah satu sektor utama dalam struktur ekonomi daerah.


Ironisnya, sektor ini justru menghadapi krisis regenerasi. Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa mayoritas petani di Indonesia kini berusia di atas 55 tahun, menandakan bahwa sektor pangan semakin didominasi oleh kelompok usia yang menua.


Namun sebenarnya sektor industri tambang dan sektor pangan tidak harus berjalan terpisah. Justru terdapat peluang besar untuk membangun keterhubungan ekonomi antara keduanya.


Ekspansi industri ekstraktif sering kali dipahami sebagai simbol kemajuan ekonomi daerah. Namun pembangunan yang terlalu bertumpu pada satu sektor juga menyimpan risiko ketergantungan yang besar.


Ekonom pembangunan E. F. Schumacher pernah mengingatkan bahwa “any intelligent fool can make things bigger and more complex, but it takes a touch of genius and a lot of courage to move in the opposite direction.” Pembangunan yang bijak tidak selalu berarti memperbesar skala industri, tetapi juga memerlukan keberanian untuk memperkuat sektor-sektor dasar yang menopang kehidupan masyarakat, seperti pertanian, perikanan, dan peternakan.


Kawasan industri yang berkembang di Kolaka akan membawa ribuan pekerja dari berbagai daerah. Kehadiran tenaga kerja dalam jumlah besar tentu menciptakan kebutuhan konsumsi pangan yang sangat tinggimulai dari beras, ikan, sayuran, hingga daging.


Kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi generasi muda daerah jika dikelola secara sistematis melalui kampus.


Bayangkan jika mahasiswa pertanian mengembangkan pertanian modern berbasis teknologi, mahasiswa perikanan mengelola usaha akuakultur/budidaya yang efisien, dan mahasiswa peternakan membangun produksi daging dan telur berbasis manajemen bisnis modern.


Produk-produk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga dapat menjadi pemasok utama kebutuhan pangan bagi kawasan industri dan para pekerjanya.


Dengan demikian, sektor pangan tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional yang tertinggal, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi baru yang terhubung dengan perkembangan industri daerah.


Karena itu, sudah saatnya pemerintah daerah bersama pemerintah pusat merancang langkah yang lebih progresif untuk menghidupkan kembali minat generasi muda pada sektor pangan.


Jika industri tambang mampu menyediakan program beasiswa untuk menyiapkan tenaga kerja masa depan mereka, maka pemerintah juga perlu menghadirkan program serupa untuk mencetak petani, nelayan, dan peternak muda yang modern dimulai dari kampus.


Program tersebut dapat berupa beasiswa khusus bagi mahasiswa pertanian, perikanan, dan peternakan yang disertai dengan stimulus usaha sejak di bangku kuliah.


Kampus dapat menjadi inkubator bisnis yang mendorong mahasiswa mengembangkan usaha pangan modern berbasis teknologi dan kewirausahaan.


Kolaka tidak harus memilih antara tambang dan sektor pangan. Keduanya justru dapat saling memperkuat jika pembangunan dirancang secara terintegrasi.


Namun pertanyaan pentingnya adalah: ketika suatu hari cadangan tambang mulai menipis dan industri ekstraktif tidak lagi menjadi penggerak utama ekonomi daerah, siapa yang akan kembali mengolah sawah dan menjaga laut Kolaka jika generasi mudanya telah lama meninggalkan sektor tersebut?.


Pertanyaan ini seharusnya mulai dijawab hari inisebelum sawah dan laut kehilangan generasi penerusnya.


Strategi apa yang harus disiapkan untuk menstimulan minat kaum muda di Kolaka untuk memajukan sektor pangan Pertanian, Perikanan dan Peternakan?.


Atau apakah anak muda hanya sekedar lumbung suara dikala pemilu akan segera tiba?.


Tentunya Pemerintah, Perguruan Tinggi dan Seluruh Industri yang ada perlu ada kolaborasi untuk merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Daerah untuk masa depan Kolaka yang lebih baik. (*)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ketika Anak Muda Kolaka Meninggalkan Sawah dan Laut

Terkini

Topik Populer

Iklan