Iklan

terkini

BMKG Rilis Prediksi: Ini Jadwal Musim Kemarau di Kolaka Raya dan Bombana

4/16/26, 19:37 WIB Last Updated 2026-04-16T12:37:41Z

BMKG rilis jadwal musim kemarau di Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, dan Bombana di tahun 2026. | Foto: Dokumen Info Viral Kolaka

KOLAKA, IVK Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah Kolaka Raya dan Kabupaten Bombana pada 2026 akan datang lebih cepat, lebih panjang, dan cenderung lebih kering.


Kondisi ini disebut berkaitan erat dengan potensi munculnya fenomena El Niño yang diperkirakan mulai terbentuk pada pertengahan tahun ini.


Kepala Stasiun BMKG Kolaka, Danu Triatmoko, menjelaskan bahwa sejumlah indikator iklim global menunjukkan peluang terbentuknya El Niño kategori lemah hingga moderat cukup tinggi, yakni mencapai 50 hingga 80 persen pada periode Mei hingga Juni 2026.


“Puncak dampaknya diprediksi akan terasa paling ekstrem pada bulan Agustus hingga Oktober,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).


Sejalan dengan itu, BMKG juga telah memetakan jadwal masuknya musim kemarau di wilayah Kolaka Raya dan Bombana.


Untuk Kabupaten Kolaka, musim kemarau diperkirakan mulai pada awal Juni 2026, atau sekitar 10 hari lebih cepat dari biasanya, dengan puncak pada Agustus hingga September.


Sementara di Kolaka Timur, kemarau diprediksi mulai dari awal Juni hingga pertengahan Juli, dengan puncak berlangsung hingga Oktober.


Adapun Kolaka Utara diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada akhir Juni, dengan puncak pada Agustus hingga Oktober.


Di Kabupaten Bombana, wilayah Pulau Kabaena menjadi yang paling awal mengalami kemarau, yakni sejak akhir Mei, kemudian disusul wilayah daratan pada Juni.


BMKG menilai, karakter musim kemarau tahun ini tergolong normal hingga di bawah normal, yang berarti kondisi cuaca akan lebih kering dengan durasi lebih panjang sekitar satu hingga dua bulan dibandingkan tahun biasa.


Fenomena ini diperkuat dengan potensi terjadinya Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada semester kedua 2026.


Kombinasi El Niño dan IOD positif berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan hingga 30–50 persen dari kondisi normal.


“Normalnya awan hujan terbentuk di wilayah Indonesia, tapi saat El Niño pusatnya bergeser ke Pasifik, sehingga kita kehilangan pasokan uap air,” jelas Danu.


Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai bersiap menghadapi dampak musim kemarau, mulai dari potensi kekeringan, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.


Pemerintah daerah juga diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif sejak dini guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan. (nov)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • BMKG Rilis Prediksi: Ini Jadwal Musim Kemarau di Kolaka Raya dan Bombana

Terkini

Iklan