Iklan

terkini

Dari Dunia Konstruksi ke Ruang Bermain: Kisah Sari, Lulusan Teknik yang Memilih Mengabdi di PAUD

4/22/26, 14:20 WIB Last Updated 2026-04-22T07:24:19Z
Siti Aminahsari, ST. Seorang lulusan sarjana teknik sipil Universitas Haluoleo yang memilih abdikan dirinya sebagai guru PAUD di Kelurahan Ulunggolaka, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka (kiri). dan suasana saat Siti Aminahsari, ST. saat mengajar di PAUD Mandiri (kanan) | Foto: Hasrul


KOLAKA, IVK - Di sudut ruangan kecil berwarna cerah, di tengah suara tawa anak-anak memenuhi udara. Berdiri wanita muda dengan hijab biru tua  dan senyum hangat.


Sari,  27 tahun, mantan mahasiswi lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Haluoleo yang kini lebih akrab dipanggil “Bu Guru”.


Ia dipanggil Bu Guru oleh puluhan balita di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mandiri.


PAUD Mandiri berada di Kelurahan Ulunggolaka,  Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.


Sari bukan sekadar guru biasa. Ia adalah simbol dari pilihan hidup yang tak lazim, namun penuh makna.


Setelah lulus dari jurusan Teknik Sipil Universitas Haluoleo, ia meninggalkan kerja di perusahaan konstruksi.


Alih-alih mengenakan helm proyek dan membawa blueprint, ia memilih memakai apron bergambar binatang dan memegang pensil warna.


"Saya memilih jadi guru PAUD karena panggilan jiwa untuk memajukan pendidikan anak usia dini. Karena di lingkungan kami ini banyak anak-anak kecil yang seharusnya sudah menempuh pendidikan usia dini tapi belum bersekolah,” katanya.


Hal ini dikarenakan lantaran keluarga mereka belum ingin memasukkan anaknya ke sekolah.


“Mungkin karena terkendala dari kurangnya biaya. Selain itu juga kurangnya sosialisasi serta jarak dari sekolah PAUD formal menjadi salah satu alasan,” ujarnya.


Sehingga Sari dan teman-teman mengajarnya berkeinginan agar anak-anak di wilayahnya bisa mendapatkan pendidikan layak seperti anak-anak PAUD lainnya di perkotaan.


“Memang hati saya selalu tertarik pada dunia anak. Saya merasa ada panggilan yang lebih dalam dan Nyaman,” ucapnya.


Meski PAUD tempat mengajarnya jauh dari pusat kota kecamatan dengan fasilitas pendidikan yang sangat minim, belum lagi sekolahnya yang hanya yayasan swasta, ia rela dibayar jauh dari standar gaji fresh graduate teknik. Tapi bagi Sari, uang bukan ukuran kebahagiaan. 


“Ketika seorang anak berhasil menulis namanya sendiri, atau pertama kali bisa menghitung sampai sepuluh, itu rasanya seperti menang penghargaan,” ujarnya dengan mata berbinar.


Setiap pagi, Sari datang pukul 07.00, menyiapkan alat permainan edukatif, menyapu lantai, bahkan kadang membantu orang tua membujuk anaknya untuk ikut belajar.


Siang hari, sepulang dari PAUD tempatnya mengajar,  ia masih sempat melakukan aktifitasnya di rumah.


“Saya percaya, fondasi karakter manusia dibentuk sejak dini. Kalau kita gagal di sini, nanti susah diperbaiki. Saya mungkin tidak membangun jembatan atau gedung pencakar langit, tapi saya sedang membangun masa depan bangsa, satu anak pada satu waktu.” kata gadis yang bernama lengkap Siti Aminahsari, ST ini.


Para orang tua murid pun tak ragu memuji dedikasinya. Seperti pangakuan Sarlince, salah satu orang tua murid di PAUD Mandiri tempat Sari mengabdikan diri.


 “Anak saya dulu pemalu, sekarang sudah bisa berhitung, bisa membaca sedikit-sedikit, kenal huruf sampai bisa membaca doa sebelum makan, sesudah makan, bahkan surah pendek Alquran. Pendek kata, dia bukan cuma guru, dia seperti ibu kedua bagi anak-anak kami.”kata Ibu Lince, ibu dari murid PAUD tersebut. 


Meski hidupnya sederhana, Sari tak pernah mengeluh. Bahkan, tak jarang ia menyisihkan sedikit rezekinya untuk membeli bahan penunjang pembelajaran atau mainan edukatif bagi anak-anak didiknya.


“Kalau saya bisa membuat satu anak saja tumbuh jadi manusia baik, cerdas, dan percaya diri, maka semua pengorbanan ini sudah sepadan,” ucapnya pelan, sambil tersenyum.


Kisah Sari mengingatkan kita bahwa kesuksesan bukan selalu tentang jabatan tinggi atau penghasilan besar.


Kadang keberhasilan sejati justru terukir dalam senyuman anak kecil yang akhirnya berani mengangkat tangan di kelas, atau dalam pelukan hangat dari murid yang berkata, “Bu Guru, aku sayang ibu.”


Sekolah tempat Sari mengajar memang bukan berada di tempat yang biasa. Dari pusat Kecamatan Latambaga, berkisar 5 kilo meter. 


Perjalanan ke tempat ini juga membutuhkan semangat dan perjuangan yang tinggi karena topografinya sebagian masih merupakan perkebunan masyarakat.


Di era di mana banyak orang berlomba mengejar materi, Sari memilih jalan lain, jalan yang sunyi, tapi penuh cahaya.


Dan mungkin, dialah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya saat ini. (rul)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Dunia Konstruksi ke Ruang Bermain: Kisah Sari, Lulusan Teknik yang Memilih Mengabdi di PAUD

Terkini

Iklan