Iklan

terkini

Tangis Pilu di Ujung Asap: Berpulangnya Sang Pemimpin Muda Haerul Saleh dalam Dekapan Api

5/10/26, 09:06 WIB Last Updated 2026-05-10T02:06:09Z

 

Kepergian Haerul Saleh meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Kolaka dan Sulawesi Tenggara. | Foto: Dokumen IVK

JAKARTA SELATAN /KOLAKA, IVK– Pagi hari yang seharusnya menjadi awal harapan, berubah menjadi kisah duka yang membekas di hati warga Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Asap hitam membumbung tinggi menembus langit pagi itu, membawa serta nyawa Haerul Saleh (44), Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), sosok pemimpin muda harapan dari tanah Kolaka, Sulawesi Tenggara.

 

Kala jarum jam baru menunjuk pukul 07.53 WIB pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, ketenangan di Perumahan Tanjung Barat Indah tiba-tiba terpecah oleh jeritan kepedihan dan bau gosong yang menyengat.


Di balik dinding rumah megah itu, kobaran api ganas tengah memeluk ruang kerja di lantai empat.


Di sanalah, Haerul Saleh berjuang mempertaruhkan hidup, terperangkap dalam lautan api yang diduga bermula dari sisa cairan tinner  perbaikan lantai rumah.

 

Jeritan minta tolong sempat terdengar samar oleh Arpen, penjaga rumah yang setia mendampinginya sehari-hari.


"Bapak berteriak minta pertolongan, namun saat kami naik ke atas, pintu dan lorong sudah tertutup kabut asap tebal serta kobaran api yang tak tertahankan," kenang Arpen dengan suara bergetar menahan tangis.


Usaha warga sekitar dan petugas keamanan untuk menyelamatkan nyawa pejabat teladan itu kandas diterjang panasnya api yang seolah tak mau melepaskan korbannya.


Hingga saat petugas Pemadam Kebakaran tiba dan memadamkan api sekitar pukul 09.00 WIB, takdir telah menuliskan kisah yang menyayat hati.

 

Berita kepergian Haerul Saleh menyisakan duka mendalam bagi seluruh bangsa, khususnya warga Sulawesi Tenggara dan keluarga besar Partai Gerindra.


Sosok kelahiran 12 Agustus 1981 ini dikenal bukan hanya sebagai pejabat negara yang tegas dan jujur, namun juga sebagai sahabat yang rendah hati serta pelindung bagi kaum muda.


Perjalanan panjang pengabdiannya dimulai dari organisasi pemuda di daerah kelahirannya, hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua KNPI Kolaka, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri HIPMI Sulawesi Tenggara, hingga menjabat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat selama dua periode.

 

Langkah gemilangnya pun terus berlanjut saat ia dipercaya memegang amanah sebagai Anggota IV BPK RI pada April 2022.


Di usia emas 44 tahun, ia masih menyimpan sejuta mimpi dan rencana besar untuk pengawasan keuangan negara yang bersih demi kesejahteraan rakyat.


Namun, takdir berkata lain. Kobaran api yang tiba-tiba meluluhlantakkan lantai empat kediamannya turut memadamkan segenap cita-cita luhur sang pemimpin muda yang dicintai banyak orang.

 

Berita kepergian sang pemimpin muda menyebar bagai kilat hingga ke tanah kelahirannya di Kolaka, Sulawesi Tenggara.


Sore harinya, suasana semakin mencekam dan berbalut tangis haru saat jenazah beliau diterbangkan pulang menggunakan pesawat jenis Embraer 600 Legacy  bernomor pendaftaran T7‑GBS.


Pesawat berangkat dari Halim Perdanakusuma pukul 15.00 WIB dan mendarat perlahan di Bandar Udara Sangia Nibandera  pukul 18.30 WITA.


Ribuan warga telah menunggu berjam‑jam, rela berdesakan hanya untuk sekadar menanti kedatangan jenazah sosok yang dicintai ini.


Janji Suci yang belum Tercapai

  

Di kediamannya, di Jalan Kakatua, Kelurahan Laloeha, tangis pecah seketika saat peti jenazah dibawa masuk.


H. Amri, Bupati Kolaka sekaligus ipar almarhum tak kuasa membendung air matanya di hadapan ribuan pelayat.


Ia menceritakan kisah menyayat hati tentang Janji Suci yang Belum Sempat Tercapai.


Hanya tiga hari sebelum musibah, Haerul masih meneleponnya dengan semangat mencari lokasi tanah untuk mendirikan Masjid di sekitar Bandar Udara Sangia Nibandera.


Sebuah wujud nazar yang ingin ditepati sebelum ia berangkat menunaikan Ibadah Haji pada 23 Mei 2026.

 

"Beliau berpesan, 'Pak, carikan tanah yang baik, saya mau pulang dulu sebelum berangkat Haji untuk meletakkan batu pertamanya'. Tanah sudah kami dapatkan... namun kini beliau pergi meninggalkan janji itu  bersama kenangan kami," ungkap Amri dengan suara parau tertahan isak tangis.

 

Kepergian Haerul Saleh bukan sekadar kehilangan seorang pejabat negara. Bagi rekannya di BPK, Nyoman Adhi Suryadnyana, Haerul Saleh ibarat saudara kandung yang hilang selamanya.


"Beliau sangat santun, suka bercanda namun tegas saat bertugas. Hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Pada Sabtu pagi, 9 Mei 2026 pukul 10.00 WITA, tangis kembali berkumandang saat ribuan warga mengantar jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir di pemakaman keluarga di jalan Pendidikan Kelurahan Laoeha.


Diiringi doa panjang dan air mata perpisahan, tanah kelahirannya kini kembali memeluk tubuh dingin sang pemuda berhati emas.

 

Selamat jalan, Bapak Haerul Saleh. Pergilah dengan tenang menuju keabadian.


Biarlah niat suci dan kebaikanmu yang tak sempat terwujud di dunia ini menjadi cahaya terang yang menuntunmu menuju kedamaian sejati di sisi Allah SWT.


Engkau telah berpulang lebih awal, namun namamu terpatri abadi dalam sanubari kami. (rul)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tangis Pilu di Ujung Asap: Berpulangnya Sang Pemimpin Muda Haerul Saleh dalam Dekapan Api

Terkini

Topik Populer

Iklan