![]() |
| Panen jagung pakan Kelompok Tani Padaidi di Desa Tondowolio, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Kamis 8 Januari 2026 (kanan) dan Kepala BPS Kolaka, Ade Ida Mane (kiri). | Foto: Noval |
KOLAKA, IVK – Produktivitas jagung pakan di Kabupaten Kolaka menunjukkan tren menggembirakan.
Hal itu terlihat dari panen jagung Kelompok Tani Padaidi di Desa Tondowolio, Kecamatan Tanggetada, Kamis (8/1/2026), yang mampu mencatat hasil di atas rata-rata produksi daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kolaka, Ade Ida Mane, mengatakan produksi jagung pakan yang dipanen hari ini mencapai rata-rata 7,5 ton per hektare dalam bentuk pipilan kering.
Angka tersebut dinilai sangat baik dibandingkan rata-rata produksi jagung di sejumlah wilayah lain.
“Tadi ada yang mencapai 8 ton per hektare, ada juga 7 ton. Jadi rata-ratanya sekitar 7,5 ton per hektare. Ini cukup tinggi,” ujar Ade usai panen.
Baca juga: Panen Jagung Pakan, Kelompok Tani Padaidi Manfaatkan Lahan Tidur di Tondowolio
Dengan harga jagung pakan saat ini berkisar Rp5.500 per kilogram, nilai produksi dalam satu hektare bisa mencapai lebih dari Rp41 juta, sebelum dikurangi biaya produksi seperti bibit, tenaga kerja, dan perawatan.
“Kalau dikalikan dengan harga sekarang, potensi nilai jualnya sekitar Rp41 juta per hektare. Ini tentu sangat menjanjikan bagi petani,” jelasnya.
Ade menilai tingginya produktivitas tersebut tidak lepas dari pola pembinaan dan perawatan tanaman yang dilakukan secara intensif melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa.
Menurutnya, hasil panen ini jauh lebih baik dibandingkan pola tanam rutin tanpa pendampingan, yang umumnya hanya menghasilkan sekitar 6 ton per hektare, bahkan di bawahnya.
“Ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perusahaan dan petani sangat efektif. Kalau pembinaan seperti ini terus berlanjut, saya yakin produksi ke depan bisa lebih baik lagi,” kata Ade.
Terkait sebaran komoditas jagung di Kabupaten Kolaka, Ade menjelaskan bahwa sentra produksi jagung masih didominasi wilayah selatan.
Sementara daerah utara jumlah petani jagung relatif lebih sedikit.
“Daerah selatan Kolaka memang masih menjadi basis utama jagung. Di wilayah utara, sebarannya tidak sebanyak di selatan,” pungkasnya.
Panen jagung pakan Kelompok Tani Padaidi ini menjadi salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi multipihak mampu mendorong peningkatan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan petani di tingkat desa. (nov)
