
Bangkai paus sperma di evakuasi di Pesisir Desa Towua I, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Minggu (8/3/2026). Foto: Istimewa
KOLAKA, IVK – Bangkai paus sperma atau Physeter macrocephalus yang ditemukan terdampar di perairan sekitar Jalan Poros Bypass Kolaka–Pomalaa, pada Selasa (3/3/2026) lalu, akhirnya dievakuasi.
Bangkai paus sperma tersebut dievakuasi di pesisir Desa Towua I, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Minggu (8/3/2026).
Evakuasi bangkai paus tersebut dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kolaka, Dinas Perikanan, BKSDA Sulawesi Tenggara, TNI, Polri, serta aparat Desa Towua I.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kolaka, Sunarto, mengatakan sekitar 30 personel diterjunkan dalam proses penanganan bangkai mamalia laut tersebut.
“Proses evakuasi melibatkan sekitar 30 personel gabungan dari BPBD, Dinas Perikanan, BKSDA Sultra, TNI, Polri, serta aparat desa untuk memastikan penanganan berjalan aman dan cepat,” ujar Sunarto.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, paus tersebut memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 3 meter.
Bobot paus diperkirakan mencapai kurang lebih 8 ton.
Saat ditemukan, kondisi bangkai paus sudah mengalami pembusukan tingkat lanjut.
Petugas memperkirakan paus tersebut telah mati sekitar tujuh hari sebelum ditemukan di pesisir.
Keberadaan bangkai paus sempat menjadi tontonan warga yang datang berbondong-bondong ke lokasi.
Banyak pengendara yang menghentikan kendaraan mereka di pinggir jalan untuk melihat langsung dan mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.
Kerumunan warga bahkan sempat memicu kemacetan di jalur utama Kecamatan Wundulako.
Selain itu, bau busuk yang sangat menyengat dari bangkai paus juga dikeluhkan warga sekitar.
Bau tersebut tercium hingga radius yang cukup jauh dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Untuk menghindari dampak kesehatan serta penyebaran bakteri dari proses pembusukan, tim gabungan segera melakukan proses evakuasi.
Proses penanganan sebenarnya sudah dimulai sejak pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA saat kondisi air laut surut.
Pada tahap awal, petugas melakukan pengikatan bangkai paus menggunakan jaring serta lilitan tali.
“Pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA saat air surut kami lakukan pengikatan menggunakan jaring dan tali, kemudian penarikan dilakukan sekitar pukul 15.30 WITA saat air laut mulai pasang,” jelas Sunarto.
Evakuasi dilakukan dengan menggunakan dua kapal nelayan yang membantu menarik bangkai paus ke laut.
Bangkai paus kemudian dibawa menuju perairan laut dalam di sekitar pulau yang tidak berpenghuni.
Langkah tersebut dilakukan agar bangkai paus dapat tenggelam dan terurai secara alami di laut.
“Bangkai paus kami tarik ke laut dalam di sekitar pulau yang tidak berpenghuni agar bisa ditenggelamkan dan terurai secara alami, sehingga tidak lagi menimbulkan bau maupun gangguan bagi masyarakat,” katanya.
Proses itu juga bertujuan menghilangkan sumber bau serta mencegah potensi penyebaran bakteri dari bangkai paus yang membusuk.
Proses evakuasi akhirnya selesai sekitar pukul 16.30 WITA dalam kondisi aman dan terkendali.
Selama proses berlangsung, personel TNI dan Polri turut membantu mengatur arus lalu lintas serta menjaga jarak aman warga dari lokasi evakuasi.
Aparat desa setempat juga ikut mendampingi koordinasi antara petugas di lapangan dengan masyarakat sekitar.
Sunarto menyebut sinergi berbagai pihak sangat membantu kelancaran proses evakuasi bangkai paus tersebut.
“Kami juga mengimbau masyarakat agar segera melapor kepada pihak berwenang apabila menemukan satwa laut yang terdampar di pesisir agar dapat segera ditangani dengan cepat,” tutupnya. (nov)