Iklan

terkini

PT Vale IGP Pomalaa Catat Penjualan Perdana Bijih Nikel

3/07/26, 11:08 WIB Last Updated 2026-03-07T04:12:25Z
PT Vale IGP Pomalaa telah mencatat penjualan bijih nikel secara perdana pada awal Maret 2026. | Foto: Istimewa


KOLAKA, IVK – PT Vale Indonesia Tbk melalui proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa mencatat penjualan perdana bijih nikel pada 1 Maret 2026.


Pencapaian ini menandai transisi penting proyek dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.


Langkah tersebut juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, khususnya nikel yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik.


Penjualan perdana ini menjadi bagian dari strategi project de-risking, sekaligus membuktikan kesiapan sistem produksi menuju tahap operasi penuh.


Permintaan nikel global diperkirakan terus meningkat seiring percepatan transisi energi dan perkembangan industri kendaraan listrik.


Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia memiliki peran strategis dalam ekosistem industri tersebut.


IGP Pomalaa sendiri merupakan bagian dari agenda hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah mineral melalui integrasi pertambangan dan pengolahan di dalam negeri.


Proyek ini memiliki nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau sekitar US$4,43 miliar.


Penjualan perdana dilakukan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1 yang dirancang untuk mengoptimalkan arus material dan menjaga stabilitas produksi.


Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit.


Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, menyebut aktivasi area tersebut menjadi langkah strategis dalam menjaga ritme produksi.


“Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk memastikan distribusi material berjalan optimal dan target proyek tetap sejalan dengan prinsip operational excellence,” ujarnya.


Kapasitas stockpile berskala besar ini juga memperkuat stabilitas pasokan bahan baku serta ketahanan logistik di tengah dinamika pasar komoditas global.


Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sekitar 300 ribu ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari.


Strategi peningkatan produksi ini dilakukan secara bertahap untuk menjaga keberlanjutan operasional dan optimalisasi kapasitas produksi.


Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 4 Mwmt, proyek ini dinilai memiliki cadangan inventori yang cukup untuk menjaga konsistensi pasokan.


Di sisi lain, pembangunan infrastruktur proyek juga terus dipercepat guna meningkatkan efisiensi operasional.


Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan proyek IGP Pomalaa telah mencapai 65,76 persen.


Sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai sekitar 40 persen.


Jalur tersebut menjadi infrastruktur penting untuk distribusi material dari area tambang menuju fasilitas pengolahan dan pelabuhan.


Perkembangan ini dinilai memperkuat efisiensi modal proyek sekaligus meningkatkan prospek arus kas jangka menengah dan panjang.


Langkah ini juga sejalan dengan strategi hilirisasi nasional yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah lebih besar.


Sebagai bagian dari MIND ID, PT Vale menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan di Indonesia. (nov)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • PT Vale IGP Pomalaa Catat Penjualan Perdana Bijih Nikel

Terkini

Topik Populer

Iklan