KOLAKA, IVK — Tamalaki Kinea Mekongga menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) Angkatan ke-X sekaligus refleksi lima tahun organisasi di kawasan Bendungan Kolumbaa, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Menjunjung Tinggi Nilai Adat dan Budaya Membentuk Karakter yang Berintegritas serta Menjaga Persatuan dalam Bingkai NKRI.”
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, Diksar Angkatan X tidak hanya diarahkan pada pengenalan organisasi dan pembentukan karakter, tetapi juga membekali kader dengan materi kaderisasi, kewirausahaan serta penguatan nilai spiritual.
Ketua Umum Tamalaki Kinea Mekongga, Samsul Hasan, mengatakan Diksar menjadi bagian penting dalam proses pengenalan nilai-nilai organisasi kepada calon anggota.
Menurutnya, menjadi bagian dari Tamalaki bukan hanya berkaitan dengan penggunaan atribut organisasi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab untuk menjaga nama baik, persaudaraan dan nilai adat budaya Mekongga.
“Menjadi Tamalaki bukan hanya membawa nama dan menggunakan atribut, tetapi juga membawa amanah dan kehormatan. Karena itu, setiap anggota harus memahami tanggung jawabnya,” ujar Samsul Hasan.
Ia menambahkan, nilai adat dan budaya menjadi salah satu landasan yang terus ditekankan kepada para peserta Diksar.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Tamalaki Kinea Mekongga, Erwin Kadiman, menjelaskan bahwa Diksar tidak hanya menjadi tahapan penerimaan anggota baru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, kedisiplinan dan rasa persaudaraan.
Ia mengatakan, semangat kebersamaan menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi yang memasuki usia lima tahun.
“Diksar ini menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan persaudaraan. Kita ingin setiap anggota memahami bahwa kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi juga pada persatuan dan komitmen bersama,” kata Erwin.
Ketua Panitia Pelaksana Diksar Angkatan X, Puji Prio Utomo, mengatakan pelaksanaan Diksar tahun ini memiliki nuansa berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Menurutnya, sejumlah materi kaderisasi diberikan untuk mendorong perubahan pola pikir peserta agar lebih terarah dan mampu memahami visi serta misi organisasi.
“Diksar kali ini memiliki nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Beberapa materi kaderisasi diberikan untuk mengubah pola pikir kader agar lebih terarah sesuai dengan visi dan misi yang ingin dicapai,” ujar Puji.
Materi kaderisasi tersebut, kata Puji, tidak hanya membahas mengenai internal organisasi, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemampuan kader dalam membaca kondisi sosial dan potensi yang ada di lingkungan mereka.
Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah kewirausahaan.
Peserta didorong untuk mengenali berbagai peluang usaha di Kabupaten Kolaka sehingga kader memiliki alternatif untuk mengembangkan potensi ekonomi secara mandiri.
“Para kader diharapkan mampu membaca peluang usaha, khususnya di Kolaka. Jadi, kader tidak lagi hanya berfokus pada output organisasi yang menyasar perusahaan, tetapi bagaimana mampu melihat peluang, mengelola potensi dan menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih produktif,” jelasnya.
Menurut Puji, pembekalan tersebut penting agar kader memiliki pola pikir yang lebih luas dan tidak hanya melihat organisasi sebagai ruang aktivitas, tetapi juga sebagai tempat untuk membangun kapasitas serta kemandirian.
Dengan demikian, kader diharapkan mampu menghadapi berbagai persoalan secara lebih konstruktif, termasuk ketika berhadapan dengan dinamika sosial dan kepentingan masyarakat.
Dalam konteks pembinaan pemuda, kehadiran tokoh pemuda dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ruang komunikasi antara kader Tamalaki dengan generasi muda di Kolaka.
Tokoh pemuda diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pertukaran gagasan mengenai kepemudaan, kemandirian, pengembangan potensi daerah dan peran generasi muda dalam kehidupan sosial masyarakat.
Keterlibatan tokoh pemuda juga memperkuat pesan bahwa kaderisasi tidak berhenti pada pembentukan anggota organisasi, tetapi diarahkan untuk menyiapkan generasi muda yang mampu mengambil peran positif di tengah masyarakat.
Selain materi kaderisasi dan kewirausahaan, aspek spiritual juga menjadi bagian dari rangkaian Diksar Angkatan X.
Pada hari pertama kegiatan, para kader mengikuti dzikir bersama dan nasehat rohani.
Kegiatan tersebut ditujukan untuk membangun kesadaran spiritual sekaligus membantu para kader mengendalikan diri dalam menjalankan peran mereka di organisasi maupun di tengah masyarakat.
“Dzikir bersama dan nasehat rohani ini menjadi bagian untuk mengingatkan seluruh kader agar mampu mengendalikan diri dengan selalu mengingat kebesaran Allah SWT,” ujar Puji.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga mengikuti Ikrar Bersama sebagai bentuk komitmen untuk menjunjung nilai-nilai yang menjadi landasan Tamalaki Kinea Mekongga.
Dalam ikrar itu, para peserta menegaskan:
“Kami adalah TAMALAKI! Kami tidak hanya membawa nama, tetapi membawa amanah. Kami tidak hanya memakai atribut, tetapi membawa kehormatan. Kami tidak hanya berkumpul sebagai anggota, tetapi berdiri sebagai saudara.”
Ikrar tersebut kemudian dilanjutkan dengan komitmen untuk menjunjung adat, melestarikan budaya, menghormati sejarah, memperkuat persatuan, menjaga alam Mekongga dan mengabdikan diri kepada masyarakat.
“Adat kami junjung! Budaya kami lestarikan! Sejarah kami hormati! Persatuan kami kuatkan! Alam Mekongga kami jaga! Masyarakat kami abdikan!”
Di sisi lain, Bendahara Umum Tamalaki Kinea Mekongga, Asriani, mengatakan refleksi lima tahun menjadi momentum bagi organisasi untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga keberlanjutan nilai-nilai yang telah dibangun.
Menurutnya, perjalanan organisasi selama lima tahun tidak hanya menjadi catatan perjalanan kepengurusan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun solidaritas antaranggota.
“Lima tahun ini menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Tamalaki Kinea Mekongga dan bagaimana kita ke depan tetap menjaga kebersamaan, adat dan budaya serta hubungan baik dengan masyarakat,” ujar Asriani.
Sementara itu, kegiatan Diksar juga melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi serta kebersamaan.
Sejumlah pihak yang hadir atau dilibatkan dalam kegiatan tersebut di antaranya Lurah Lalombaa Gasko, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh adat Yunus Darwis, tokoh agama serta tokoh pemuda Risal Basnapal.
Kehadiran unsur pemerintah, aparat kewilayahan, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemuda menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengedepankan nilai persatuan serta hubungan antara organisasi dan masyarakat.
Melalui Diksar Angkatan X, Tamalaki Kinea Mekongga menegaskan komitmen untuk membentuk anggota yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga memiliki karakter, wawasan, kemampuan membaca peluang, serta tanggung jawab terhadap adat, budaya, lingkungan dan masyarakat.
Ikrar bersama kemudian ditutup dengan penegasan semangat organisasi:
“TAMALAKI Kinea Mekongga! Satu dalam persaudaraan! Teguh dalam adat! Kuat dalam persatuan! Berani dalam pengabdian!”
Kegiatan ditutup dengan salam persaudaraan “Salam Mepokoaso.” (IVK)
