Iklan

terkini

Penjualan Bijih Nikel Pomalaa Melonjak, PT Vale Catat Pendapatan US$896 Juta hingga September 2026

10/31/26, 07:03 WIB Last Updated 2026-10-31T00:03:05Z

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) catat lonjakan penjualan bijih nikel khususnya di blok Pomalaa. | Foto: PT Vale Indonesia

JAKARTA, IVK — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dengan pendapatan mencapai US$896 juta atau meningkat 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Peningkatan tersebut tidak terlepas dari kontribusi penjualan bijih nikel di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang triwulan ketiga 2026.


Director & Chief Financial Officer (CFO) PT Vale Indonesia, Rizky Putra, mengungkapkan bahwa perusahaan mencatatkan produksi nikel matte sebesar 18.341 metrik ton pada triwulan ketiga 2026 (3T26).


Capaian tersebut menjadi tingkat produksi triwulanan tertinggi sepanjang 2026 setelah perusahaan menyelesaikan kegiatan pemeliharaan besar pada awal tahun.


Menurut Rizky, peningkatan ketersediaan peralatan dan stabilitas operasional pabrik menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan produksi dibandingkan triwulan sebelumnya.


“Perseroan terus berfokus pada keandalan operasional dan konsistensi produksi untuk menjaga kinerja pada triwulan terakhir tahun ini,” ungkap Rizky.


Di sektor penjualan bijih nikel, Blok Pomalaa menjadi salah satu kontributor penting bagi pertumbuhan bisnis perusahaan.


Pada triwulan ketiga 2026, penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa mencapai 1.314.358 wet metric tons (wmt), meningkat tajam dibandingkan triwulan kedua yang tercatat sebanyak 495.601 wmt.


Dengan demikian, total penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai 1.898.943 wmt.


Sementara itu, Blok Bahodopi mencatatkan penjualan sebesar 415.000 wmt pada triwulan ketiga, sehingga total penjualannya sepanjang Januari-September 2026 mencapai 2.375.759 wmt.


Secara keseluruhan, penjualan bijih nikel dari kedua blok tersebut mencapai sekitar 1,73 juta wmt selama triwulan ketiga 2026.


Rizky menjelaskan, pencapaian tersebut mencerminkan peningkatan skala operasional sekaligus semakin besarnya kontribusi portofolio bisnis pertambangan PT Vale.


“Pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan Perseroan dalam meningkatkan skala operasional sekaligus menunjukkan semakin besarnya kontribusi dari portofolio bisnis pertambangan PT Vale yang semakin terdiversifikasi,” jelasnya.


Dari sisi keuangan, PT Vale membukukan pendapatan sebesar US$353 juta pada triwulan ketiga 2026, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai US$290 juta.


Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume pengiriman nikel matte serta kontribusi penjualan bijih nikel dari wilayah operasional Bahodopi dan Pomalaa.


Sepanjang Januari-September 2026, pendapatan perusahaan mencapai US$896 juta atau naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$705 juta.


Selain pendapatan, perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar US$101 juta pada triwulan ketiga 2026, dengan akumulasi sepanjang sembilan bulan mencapai US$297 juta.


Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencapai US$166 juta.


PT Vale juga membukukan laba bersih sebesar US$43 juta pada triwulan ketiga, sehingga total laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai US$147 juta.


Capaian tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$52 juta.


Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tantangan berupa peningkatan biaya operasional, terutama akibat kenaikan konsumsi energi dan harga sejumlah komoditas pendukung produksi.


Biaya tunai penjualan nikel matte tercatat sebesar US$10.404 per ton pada triwulan ketiga 2026, meningkat dari US$10.005 per ton pada triwulan sebelumnya.


Rizky menyebut perusahaan terus melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk mengoptimalkan penggunaan batu bara, diesel, dan Marine Fuel Oil (MFO), serta mengendalikan biaya operasional secara disiplin.


Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan bisnis perusahaan di tengah dinamika pasar dan kondisi geopolitik global.


Di sisi lain, PT Vale juga terus mempercepat agenda hilirisasi melalui pengembangan proyek strategis, termasuk proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa.


Dalam laporan kinerja triwulan ketiga 2026, perusahaan mengumumkan telah mencapai mechanical completion pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek HPAL Pomalaa.


Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan bisnis hilir PT Vale.


Selama triwulan ketiga 2026, perusahaan juga merealisasikan belanja modal sekitar US$95 juta untuk mendukung keberlangsungan operasional sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis.


Hingga 30 September 2026, kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar US$247 juta, meningkat dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang mencapai US$111 juta.


Memasuki 2027, PT Vale menargetkan penguatan produksi nikel matte, peningkatan kontribusi penjualan bijih dari wilayah pertumbuhan, serta percepatan pengembangan proyek-proyek hilirisasi strategis.


Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat portofolio bisnis, menjaga ketahanan keuangan, dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. (IVK)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Penjualan Bijih Nikel Pomalaa Melonjak, PT Vale Catat Pendapatan US$896 Juta hingga September 2026

Terkini

Topik Populer

Iklan