
![]() |
Nenek Basyiah menunjukkan kartu merah putih dan buku rekening miliknya di Rumahnya, di Desa Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Sabtu (16/8/2025) sore. |
Sore itu, Sabtu, 16 Agustus 2025, sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia awak media Info Viral Kolaka berkunjung ke rumah ibu Basyiah, warga Desa Konaweha, Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Bersama seorang warga desa, kami mendapati Basyiah tengah sibuk di dapur samping rumahnya yang dindingnya masih terbuat dari papan yang terlihat berwarna hitam dan rapuh termakan waktu.
Sambil menyalakan api dari tumpukan kayu bakar di dapur yang hanya terbuat dari tumpukan tiga keping batu besar, Basyiah menerima kami bertiga dengan sedikit kaku.
Seorang pemuda warga desa yang menemani kami kemudian menyampaikan maksud kedatangan ke rumah Basyiah.
Setelah mengerti, wanita tua yang telah ditinggal mati 20 tahun lalu oleh suaminya itu lantas mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya.
“yah beginilah rumah kami pak. Ayo silahkan masuk,” sapanya, sembari tersenyum dan mempersilakan kami masuk.
![]() |
Rumah nenek Basyiah di Desa Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. |
Rumah Basyiah memang sangat sederhana dan terpisah dari rumah warga lainnya.
Terletak di sebidang tanah yang di sekelilingnya masih berupa tanah kosong bersemak belukar.
Dengan hamparan tambak milik warga yang tak jauh dari depan rumahnya.
Rumah yang dindingnya terbuat dari papan dengan lantai yang hanya disemen halus itu, seakan memberi tahu kepada kita bahwa pemiliknya memang dikategorikan sebagai warga miskin yang sangat layak menerima bantuan pemerintah.
Informasi dari warga, Basyiah tinggal di rumah itu berempat.
Wanita kelahiran 1964 itu tinggal bersama dua anak kecil berusia belasan tahun yang merupakan anak dan cucunya, serta seorang kakak lelakinya yang tengah sakit.
Apa yang bisa kami bantu pak? tanya Basyiah dengan wajah serius.
“Kami wartawan Info Viral Kolaka mendapat informasi terkait warga yang memiliki kartu ‘Merah Putih’ namun tak pernah menerima bantuan pemerintah berupa Bantuan Sosial. Betulkah demikian bu?,” kata kami kepadanya.
Mendengar pertanyaan dari wartawan, raut wajahnya langsung berubah, seperti ada kesedihan yang ingin disampaikan kepada kami.
“iya pak. Saya memang memiliki kartu merah putih dari pemerintah sebagai penerima bansos, namun sudah 4 tahun ini, terihitung sejak tahun 2021, saya tak lagi menerima bantuan apa-apa lagi,” katanya lirih.
Basyiah bercerita. “Mungkin sudah takdir saya memang seperti ini, hidup sebagai janda tua yang ditinggal mati oleh suami 20 tahun lalu,” katanya.
“Saya harus berjuang sendiri mempertahankan hidup dengan tanggungan keluarga tiga orang,” lanjutnya.
![]() |
Nenek Basyiah sedang memasak di dapur sederhana yang berada di samping rumahnya di Desa Konaweha, Sabtu (16/8/2025). |
Untuk makan saja, Basyiah terpaksa mengutang beras di warung tetangga.
“Sebab mau bagaimana lagi pak, jika tidak begitu, mungkin kami tidak bisa makan,” ujarnya.
“Untung pemilik warungnya masih percaya kepada kami, sehingga dia masih mau kasi utang berasnya. Tapi saya tetap bayar, jika sudah punya uang, meskipun utangnya kadang menumpuk sampai ratusan ribu,” ceritanya.
“dari mana ibu dapat uang untuk membayar utang beras itu?,” tanya kami.
Saya bekerja sebagai pencari nener pak. Benih ikan bandeng yang ada di laut,”katanya.
Nenek Basyiah harus turun ke laut mencari nener. Pagi, siang, malam, bahkan subuh pun tak masalah baginya, asal bisa mendapat nener, itu sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan hidup bersama keluarga.
Dari hasil menangkap nener itu, nenek Basyiah menjualnya ke pengepul.
Meski harga tak seberapa, namun ia sangat bersyukur karena masih diberi rezeki untuk membiayai kebutuhan sehari-hari nenek Basyiah bersama tiga orang lainnya yaitu anak, cucu, dan kakaknya.
“Tapi pak, nener itu tidak setiap hari ada. Hanya di bulan tertentu saja seperti bulan oktober dan nopember. Jadi jika bukan waktunya untuk mencari nener, terpaksa saya meminta kepada anak saya yang pergi bekerja di luar daerah. Kalau dia punya uang, saya dikirimkan. Tapi kalau dia lagi tidak punya, saya harus bersabar,” ujarnya.
Nenek Basyiah bilang, sejak dia menerima kartu merah putih sejak tahun 2021, hanya dua kali saja dia menerima bantuan. Setelahnya tidak pernah lagi hingga saat ini.
Pernah dia menanyakan hal tersebut kepada pemerintah di tempatnya, namun tak ada jawaban yang berpihak baik kepadanya.
Sedihnya lagi, jika bantuan sosial telah dicairkan oleh warga lainnya, dia hanya jadi penonton.
Padahal nasib dan statusnya sebagai warga miskin, sangat layak untuk menerima bantuan sosial.
“Kalau orang sudah terima bantuan pak, saya hanya bisa menonton. Kadang saya sedih dan menangis. Kenapa saya dikasi begini sama pemerintah,”
“Bayangkan orang menerima bantuan beras, telur atau bantuan sembako lainnya lewat di depan rumah saya pak,”
“Sementara saya juga punya kartu bantuan itu, tapi tidak ada isinya rekeningnya pak. Jadi apa gunanya kartu dan buku rekening ini?. Dulu sudah pernah saya mau buang karena percuma disimpan,”
“Tidak ada gunanya. Namun anak saya menyarankan Jangan dibuang. simpan saja kartunya. Mungkin suatu saat akan berguna. Makanya saya masih simpan sampai hari ini,”
Nenek Basyiah hanya berharap agar pemerintah, utamanya Bupati Kolaka bisa memberi perhatian kepada warga miskin yang mengalami nasib seperti ini.
“Tolong kasian pak. Hak kami sebagai warga miskin diberikan,” pinta Basyiah.
Cerita Basyiah, seorang ibu, janda tua dengan status warga miskin di Desa Konaweha Kabupaten Kolaka memang membuat kita tersentak nyaris tak percaya.
Sebab betapa bisa seorang warga miskin, penerima kartu merah putih dan pernah menerima bantuan jaminan hidup dari pemerintah, namun empat tahun terakhir dibiarkan ‘terlunta-lunta’ seperti itu. Siapa yang bertanggung jawab akan hal ini? Yang jelas, pemerintah sepertinya abai dalam hal ini. (IVK)