Iklan

terkini

PT Vale Pastikan Air Limpasan Tambang Tetap Aman, LGS Jadi Garda Terdepan Lindungi Danau Matano

7/31/26, 09:51 WIB Last Updated 2026-07-31T02:51:20Z

PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako implementasikan LGS sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas air limpasan tambang agar tetap penuhi baku mutu lingkungan sebelum dialirkan ke Danau Matano di Luwu Timur. | Foto: Noval

SOROWAKO, IVK – PT Vale Indonesia menegaskan komitmennya menjaga kualitas air limpasan tambang agar tetap memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dialirkan ke badan air.


Komitmen itu diwujudkan melalui pengoperasian Lamella Gravity Settler (LGS), fasilitas pengolahan air limpasan tambang yang berada di area LGS, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.


Fasilitas tersebut menjadi salah satu sistem utama PT Vale dalam mengolah air hujan yang mengalir dari area tambang sebelum bermuara ke Danau Matano.


Supervisor Mine Infrastructure PT Vale Indonesia, Aris Kallolangi, mengatakan air limpasan tambang yang berasal dari permukaan area tambang harus dijaga kualitasnya agar aktivitas pertambangan dapat berlangsung secara berkelanjutan.


Menurutnya, menjaga kualitas air merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab.


"Kalau air kita jaga, berarti kegiatan penambangan juga bisa terus berjalan secara berkelanjutan," kata Aris saat ditemui di fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS), Sorowako.


Ia menjelaskan LGS dibangun sebagai instalasi pengolahan air limpasan dengan luas sekitar 100 meter x 25 meter.


Fasilitas tersebut mampu menampung sekitar 4.000 meter kubik air setiap hari.


Dalam proses pengolahan, PT Vale menggunakan bahan kimia ferrous sulfate untuk menurunkan kadar Total Suspended Solid (TSS) atau tingkat kekeruhan air serta kandungan Chromium Hexavalent (Cr6).


Aris mengatakan kedua parameter tersebut menjadi fokus utama pengawasan agar air yang dilepas ke lingkungan tetap memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.


"Yang kami kontrol adalah TSS dan Chromium Hexavalent agar air yang keluar tetap jernih dan memenuhi baku mutu," ujarnya.


Ia menambahkan lokasi LGS ditempatkan di kawasan tersebut karena menjadi daerah yang paling dekat dengan permukiman masyarakat sekaligus langsung terhubung ke Danau Matano.


Sementara itu, Supervisor Hydrology Planning and Compliance PT Vale Indonesia, Andi Burhanuddin, mengatakan PT Vale memiliki 11 titik penaatan lingkungan atau compliance point yang tersebar di seluruh wilayah operasional.


Menurutnya, kawasan LGS menjadi salah satu area paling strategis karena air limpasan di lokasi tersebut bermuara ke sungai yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.


"LGS ini terintegrasi dengan beberapa kolam pengendapan sehingga pengelolaan air dilakukan secara bertahap sebelum masuk ke badan air," jelas Andi.


Ia menerangkan tujuan utama sistem tersebut bukan hanya menjaga kualitas air, tetapi juga mengendalikan debit air agar tidak memicu longsor maupun banjir saat curah hujan tinggi.


Menurut Andi, sebelum mencapai LGS, air hujan dari area tambang terlebih dahulu ditampung di sejumlah kolam retensi.


Air kemudian dialirkan secara bertahap sesuai kapasitas instalasi pengolahan.


Jika debit air meningkat saat hujan deras, PT Vale telah menyiapkan beberapa kolam tambahan yang tetap dilengkapi sistem pengolahan.


"Kami sudah mengantisipasi risiko hujan ekstrem dengan beberapa kolam retensi dan fasilitas pengolahan tambahan sehingga baku mutu air tetap terjaga," katanya.


Ia mengungkapkan kualitas air yang dilepas ke lingkungan terus dipantau selama 24 jam melalui pengambilan sampel sebelum dan sesudah proses pengolahan.


Hasil pengujian dilakukan oleh laboratorium independen yang telah terakreditasi.


Andi menyebut hasil pengujian konsultan internasional pada akhir 2025 juga menunjukkan kualitas air di muara LGS memenuhi baku mutu lingkungan.


"Selain diuji laboratorium nasional, sampel juga pernah diperiksa konsultan internasional untuk kebutuhan standar IRMA dan hasilnya memenuhi baku mutu," ujarnya.


Ia menjelaskan proses pengolahan air di LGS relatif cepat.


Dalam waktu sekitar satu hingga dua jam setelah proses injeksi bahan kimia dilakukan, air yang telah memenuhi standar lingkungan sudah dapat dialirkan ke badan air.


Andi mengatakan teknologi Lamella Gravity Settler merupakan satu-satunya yang diterapkan pada industri pertambangan nikel di Indonesia.


Fasilitas tersebut mulai dibangun pada 2011 dan mulai beroperasi pada 2016.


Menurutnya, teknologi itu jauh lebih efisien dibanding kolam pengendapan konvensional.


"Dengan luasan yang sama, efektivitas LGS bisa sekitar sepuluh kali lebih tinggi dibanding kolam biasa dalam menurunkan TSS," jelasnya.


Ia mengakui investasi pembangunan LGS memang lebih besar dibanding sistem konvensional.


Namun, dalam jangka panjang teknologi tersebut dinilai lebih efektif menjaga kualitas lingkungan sekaligus meminimalkan potensi keluhan masyarakat akibat air yang keruh.


PT Vale juga terus mengembangkan sistem pemeliharaan LGS, termasuk penggunaan monorel dan pompa khusus untuk mengangkat endapan lumpur dari dasar kolam.


Selain itu, perusahaan mulai mengkaji peluang penerapan water recycle sebagai bagian dari upaya konservasi air.


Namun, Andi menjelaskan pemanfaatan kembali air hujan masih terkendala regulasi sehingga hingga kini perusahaan masih memanfaatkan kembali air baku yang telah memiliki izin penggunaan.


"Kami sebenarnya ingin mengembangkan sistem water recycle lebih luas, tetapi masih menunggu kepastian regulasi terkait pemanfaatan air hujan," pungkasnya. (nov)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • PT Vale Pastikan Air Limpasan Tambang Tetap Aman, LGS Jadi Garda Terdepan Lindungi Danau Matano

Terkini

Topik Populer

Iklan