Iklan

terkini

Inflasi Kolaka Tembus 5,33 Persen, Tertinggi Kedua di Sultra, Apa Penyebabnya?

7/30/26, 16:28 WIB Last Updated 2026-07-30T09:29:37Z
Menurut data BPS Sulawesi Tenggara per Juni 2026, inflasi Kabupaten Kolaka menduduki peringkat tertinggi kedua setelah Kota Baubau. | Foto: Dokumen IVK


KOLAKA, IVK – Kabupaten Kolaka menjadi salah satu daerah dengan tekanan inflasi tertinggi di Sulawesi Tenggara pada Juni 2026.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Kolaka mencapai 5,33 persen, menempatkannya di posisi kedua tertinggi setelah Kota Baubau yang mencatat inflasi 5,60 persen.


Angka tersebut juga berada di atas rata-rata inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara yang sebesar 4,68 persen.


Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Kolaka tercatat 115,78, lebih tinggi dibanding Kota Kendari (113,83) maupun Kabupaten Konawe (113,78).


Berdasarkan data BPS, dari empat daerah yang menjadi sampel penghitungan inflasi di Sulawesi Tenggara, hanya Kota Baubau yang mencatat inflasi lebih tinggi dibanding Kolaka.


Peringkat Inflasi Sultra Juni 2026

  1. Kota Baubau: 5,60 persen

  2. Kabupaten Kolaka: 5,33 persen

  3. Kota Kendari: 5,14 persen

  4. Kabupaten Konawe: 2,12 persen


Meski inflasi tahunan Kolaka tergolong tinggi, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) di daerah ini relatif lebih rendah, yakni 0,51 persen.


Angka tersebut bahkan berada di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 1,29 persen, mengindikasikan bahwa lonjakan harga lebih banyak dipengaruhi akumulasi kenaikan dalam beberapa bulan terakhir dibandingkan kenaikan tajam selama Juni saja.


Secara umum, BPS Sulawesi Tenggara mencatat inflasi provinsi dipicu oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran.


Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan 8,55 persen, disusul transportasi sebesar 6,59 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,88 persen.


Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta pendidikan sama-sama mengalami inflasi sebesar 3,81 persen, sedangkan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencapai 2,66 persen.


Sejumlah komoditas juga tercatat memberikan andil besar terhadap inflasi di Sulawesi Tenggara, di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan layang/benggol, ikan cakalang, minyak goreng, bensin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), beras, bawang merah, telepon seluler, hingga sepeda motor.


Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami penurunan harga dan membantu menahan laju inflasi, seperti ikan mujair, ikan gabus, telur ayam ras, daun singkong, cabai rawit, tempe, dan kelapa.


Masuknya Kolaka sebagai daerah dengan inflasi tertinggi kedua di Sulawesi Tenggara menjadi indikator bahwa tekanan harga di wilayah tersebut masih cukup tinggi.


Kondisi ini dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi komoditas pangan serta mengendalikan biaya transportasi yang menjadi salah satu penyumbang utama inflasi.


Jika dibandingkan dengan tiga daerah IHK lainnya di Sulawesi Tenggara, posisi Kolaka menunjukkan bahwa masyarakat di daerah ini menghadapi tekanan kenaikan harga yang relatif lebih besar daripada Kendari dan jauh di atas Konawe.


Hal ini menjadi sinyal penting bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memperkuat langkah pengendalian harga, khususnya menjelang periode dengan permintaan masyarakat yang cenderung meningkat. (nov)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Inflasi Kolaka Tembus 5,33 Persen, Tertinggi Kedua di Sultra, Apa Penyebabnya?

Terkini

Topik Populer

Iklan